“I’m single and very happy” …
banyak orang – orang yang menikah yang tak percaya kalimat ini, mengapa?
Mungkin menikah itu lebih enak, sehingga mereka lupa bahwa menjadi single itu
sama enaknya. Dan saya menemukan fakta sebagian dari mereka iri betapa menjadi
single itu menyenangkan.
(Mengingat kejadian sebelumnya,
dan masyarakat kita yang suka menJUDGE judul sebelum memahami isi) INGAT :
tulisan ini BUKAN anti
menikah, saya hanya ingin sharing bagaimana saya menikmati hidup apapun keadaannya,
mengingat status saya single, ya saya hanya bisa sharing mengenai ini :
1. Membuat kita belajar lebih
kuat.
Kadang yang terberat menjalani
kehidupan sebagai single itu bukan karena menjalani semuanya sendiri, tetapi
karena tudingan, judgment, cemooh dari orang-orang disekitar kita. Usia saya
yang mencapai kepala 3, sudah cukup memberi alasan bagi orang-orang disekitar
saya untuk memberikan label “Bujang lapuk”. Saya pernah berada dikerumunan
orang-orang yang mentertawakan “ketidaklakuan diri saya”, Saya pernah dituding
menumpuk harta karena tidak kunjung menikah, pernah pula dianggap “pecundang”
karena belum mendapat seseorang dan banyak yang lain. Sakit hati? mengingat
quote yang dikutip di lagu terbaru Kelly Clarkson “What doesn’t kill you make
you stronger”…
Saya termasuk orang temperamen,
ejekan & cemooh orang-orang ini membuat saya belajar untuk mengontrol
temperamen saya. Disini saya belajar untuk berdamai dengan kenyataan, bahwa
sungguh mustahil membuat semua orang suka dengan apa yang kita putuskan, dengan
apa yang kita lakukan, sehingga kita harus menerima kenyataan tidak semua orang
suka dengan saya. Mungkin suatu saat saya menjadi public figure, saya cukup
terlatih untuk membuat kebijakan/tindakan/keputusan yang tidak popular, membuat
lebih bisa mendengar kebenaran, dan mendengar hati nurani saya, tanpa
memperdulikan pencitraan.
“I wanna say thank you, cause it makes me that much stronger, makes me work a little bit harder, it makes me that much wiser, made me learn a little bit faster, makes me that much smarter so thanks for making me a fighter” – Fighter by Cristina aguilera
2. Waktu lebih banyak = Belajar
lebih banyak.
5 tahun lalu saya tidak pernah
berfikiran akan menjadi seorang diver, bahkan 10 tahun yang lalu berada di
dalam kolam renang pun seperti mukjizat bagi saya …sekarang lihatlah saya,
sibuk mencari lokasi open water paling asyik, menabung demi bisa mengunjungi spot-spot diving paling
seru.
Juga soal hal-hal lain seperti
menulis, saya masih punya banyak waktu, untuk mencari tahu apapun yang menarik,
mencari referensi agar tidak debat kusir. Saya sempat berfikiran, jika kelak
suatu saat saya punya anak, apakah saya masih punya waktu untuk googling sekedar
mencari arti kata “colaborasi”, “impulsive”, “cerkas” dan lain sebagainya.
3. Hidup lebih variatif.
Ketika saya pulang kerumah memang
saya tidak akan menjumpai seseorang teristimewa menyambut dirumah, tak ada yang
menemani tidur, tetapi ada semuanya ada penggantinya. Saat single kita bisa
mengajak siapapun keluar, tanpa khawatir ada yang cemburu. Bisa pergi kemana
saja tanpa ada yang mengharapkan segera pulang, bisa nonton apa saja tanpa
kompromi. Bisa mencoba apapun tanpa bertanya apa pasangan saya setuju.
4. Lebih punya banyak waktu untuk
persiapan.
Saya (*lupa sumbernya) mendengar
sebuah kutipan “Jika saya punya waktu 4 jam untuk mengerjakan sesuatu, maka 3
jam akan saya gunakan untuk masa persiapan”, artinya untuk hidup yang lebih optimal kita perlu
persiapan lebih panjang. Walau belum punya anak, tak ada yang menghalangi kita
mempersiapkan keuangan, dan bagaimana pendidikan anak kita kelak. Saya sendiri
sudah memiliki tabungan untuk istri saya melahirkan nanti, dan tahun depan saya
mempersiapkan tabungan anak saya masuk sekolah TK.
Saya pernah dikritik tentang
telatnya saya menikah,menurut mereka saat anak-anak saya membutuhkan banyak
uang saya sudah tidak mampu bekerja. Mereka benar, jika saya tidak mempersiapkan
segala sesuatunya secara dini. Bahkan menikah dini tidak menjamin mereka
mendapat pendidikan layak tanpa persiapan matang. Selama seseorang yang tepat
itu belum datang, saya sibukkan diri membentuk mau jadi seperti apa saya kelak,
dan mau jadi seperti apa anak saya kelak.
Terakhir saya belum menikah bukan
karena berencana menundanya, saya hanya belum menemukan seseorang yang tepat.
Saya bahagia menjadi single bukan karena saya anti menikah saya hanya menikmati
apa yang Tuhan berikan kepada saya saat ini. Please don’t judge me.
“it’s not very easy living all alone, my friend tell me find someone of your own, but each time I try, I just break dawn and cry” - Saving all my love by whitney Houston
