Jumat, 18 Mei 2012

Being Single

“I’m single and very happy” … banyak orang – orang yang menikah yang tak percaya kalimat ini, mengapa? Mungkin menikah itu lebih enak, sehingga mereka lupa bahwa menjadi single itu sama enaknya. Dan saya menemukan fakta sebagian dari mereka iri betapa menjadi single itu menyenangkan. 

(Mengingat kejadian sebelumnya, dan masyarakat kita yang suka menJUDGE judul sebelum memahami isi) INGAT : tulisan ini BUKAN anti menikah, saya hanya ingin sharing bagaimana saya menikmati hidup apapun keadaannya, mengingat status saya single, ya saya hanya bisa sharing mengenai ini :

1. Membuat kita belajar lebih kuat.
Kadang yang terberat menjalani kehidupan sebagai single itu bukan karena menjalani semuanya sendiri, tetapi karena tudingan, judgment, cemooh dari orang-orang disekitar kita. Usia saya yang mencapai kepala 3, sudah cukup memberi alasan bagi orang-orang disekitar saya untuk memberikan label “Bujang lapuk”. Saya pernah berada dikerumunan orang-orang yang mentertawakan “ketidaklakuan diri saya”, Saya pernah dituding menumpuk harta karena tidak kunjung menikah, pernah pula dianggap “pecundang” karena belum mendapat seseorang dan banyak yang lain. Sakit hati? mengingat quote yang dikutip di lagu terbaru Kelly Clarkson “What doesn’t kill you make you stronger”… 

Saya termasuk orang temperamen, ejekan & cemooh orang-orang ini membuat saya belajar untuk mengontrol temperamen saya. Disini saya belajar untuk berdamai dengan kenyataan, bahwa sungguh mustahil membuat semua orang suka dengan apa yang kita putuskan, dengan apa yang kita lakukan, sehingga kita harus menerima kenyataan tidak semua orang suka dengan saya. Mungkin suatu saat saya menjadi public figure, saya cukup terlatih untuk membuat kebijakan/tindakan/keputusan yang tidak popular, membuat lebih bisa mendengar kebenaran, dan mendengar hati nurani saya, tanpa memperdulikan pencitraan.
I wanna say thank you, cause it makes me that much stronger, makes me work a little bit harder, it makes me that much wiser, made me learn a little bit faster, makes me that much smarter so thanks for making me a fighter” – Fighter by Cristina aguilera

2. Waktu lebih banyak = Belajar lebih banyak.
5 tahun lalu saya tidak pernah berfikiran akan menjadi seorang diver, bahkan 10 tahun yang lalu berada di dalam kolam renang pun seperti mukjizat bagi saya …sekarang lihatlah saya, sibuk mencari lokasi open water paling asyik, menabung  demi bisa mengunjungi spot-spot diving paling seru. 

Juga soal hal-hal lain seperti menulis, saya masih punya banyak waktu, untuk mencari tahu apapun yang menarik, mencari referensi agar tidak debat kusir. Saya sempat berfikiran, jika kelak suatu saat saya punya anak, apakah saya masih punya waktu untuk googling sekedar mencari arti kata “colaborasi”, “impulsive”, “cerkas” dan lain sebagainya.

3. Hidup lebih variatif.
Ketika saya pulang kerumah memang saya tidak akan menjumpai seseorang teristimewa menyambut dirumah, tak ada yang menemani tidur, tetapi ada semuanya ada penggantinya. Saat single kita bisa mengajak siapapun keluar, tanpa khawatir ada yang cemburu. Bisa pergi kemana saja tanpa ada yang mengharapkan segera pulang, bisa nonton apa saja tanpa kompromi. Bisa mencoba apapun tanpa bertanya apa pasangan saya setuju.

4. Lebih punya banyak waktu untuk persiapan.
Saya (*lupa sumbernya) mendengar sebuah kutipan “Jika saya punya waktu 4 jam untuk mengerjakan sesuatu, maka 3 jam akan saya gunakan untuk masa persiapan”, artinya  untuk hidup yang lebih optimal kita perlu persiapan lebih panjang. Walau belum punya anak, tak ada yang menghalangi kita mempersiapkan keuangan, dan bagaimana pendidikan anak kita kelak. Saya sendiri sudah memiliki tabungan untuk istri saya melahirkan nanti, dan tahun depan saya mempersiapkan tabungan anak saya masuk sekolah TK.

Saya pernah dikritik tentang telatnya saya menikah,menurut mereka saat anak-anak saya membutuhkan banyak uang saya sudah tidak mampu bekerja. Mereka benar, jika saya tidak mempersiapkan segala sesuatunya secara dini. Bahkan menikah dini tidak menjamin mereka mendapat pendidikan layak tanpa persiapan matang. Selama seseorang yang tepat itu belum datang, saya sibukkan diri membentuk mau jadi seperti apa saya kelak, dan mau jadi seperti apa anak saya kelak.

Terakhir saya belum menikah bukan karena berencana menundanya, saya hanya belum menemukan seseorang yang tepat. Saya bahagia menjadi single bukan karena saya anti menikah saya hanya menikmati apa yang Tuhan berikan kepada saya saat ini. Please don’t judge me.
“it’s not very easy living all alone, my friend tell me find someone of your own, but each time I try, I just break dawn and cry” - Saving all my love by whitney Houston

Sabtu, 31 Maret 2012

Kutukan bernama "minyak bumi" untuk Indonesia

Dari kultwit @gm_gm, saya tahu bahwa pada tahun 1980 an Prof. Wijoyo, Menko ekuin saat itu mengatakan bahwa lebih baik kalau Indonesia tidak punya minyak. Dia mengatakan hal ini disaat Indonesia mulai merasakan duit hasil ekspor minyak yang mulai mengalir deras. Waktu itu Pertamina yang dipimpin Ibnu sutowo sangat royal membelanjakan uang dengan melakukan investasi dimana-mana, dan tentu saja jadi ladang korupsi dan kemewahan pribadi pejabat-pejabatnya. Prof. Wijoyo mengatakan hasil dari minyak membuat pejabat kita tak berhati – hati dalam merancang anggaran pembangunan ke depan. Anggaran tak didukung oleh sumber pendapatan yang awet dan partisipasi orang banyak (seperti pajak). Semua pendapatan negara bersumber hanya pada minyak. Keadaan ini membuat kutukan bagi negeri ini, minyak bumi membuat elite politik & social menjadi manja dalam kemewahan BBM. 

Kutukan ini tak berhenti, dimana BBM juga turut andil dalam terjadinya pemanasan global, yang memicu perubahan iklim, gagalnya panen, banjir, kekeringan, hingga tenggelamnya banyak pulau. Di saat  kutukan ini kian mencekik ternyata elite politik tak kunjung sadar untuk menghentikannya, mereka tak berani bertindak cepat dengen menghentikan pemakaian BBM dan menggantinya dengan bahan bakar lain. Perusahaan otomotif makin lebih suka menghasilkan mobil & motor dengan bahan bakar murah. Klop dengan kondisi angkutan umum yang buruk, membuat masyarakat lebih memilih punya kendaraan pribadi berbahan bakar murah. Akibatnya lilitan kutukan itu kian kencang di negeri ini.

Janji pemerintah untuk menyediakan energy alternative, tak kunjung terealisasikan. Derasnya caci maki ledakan tabung gas sebagai konversi minyak tanah seperti menjadi anti klimaks program konservasi energy yang lain. Sementara energy alternative yang diusahakan masyarakat secara mandiri kandas akibat kalah murah dengan BBM bersubsidi.

Saya tidak ingin berpolemik setuju atau tidak setuju dengan kenaikan BBM, itu seperti sebuah lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Yang pasti BBM murah seperti saat ini, membuat banyak orang kelas menengah terutama kalangan atas menjadi lupa. Kita lupa bahwa sebenarnya BBM yang kita pakai itu mahal, dan efek lingkungan yang diakibatkannya juga tak kalah mahal. 

Mungkin jika kita tidak punya minyak bumi, kita akan selalu ingat bahwa BBM itu sesuatu yang mahal, BBM punya efek lingkungan yang juga tak kalah mahal, kita juga akan sadar bahwa suatu saat nanti anak cucu kita tidak akan kebagian BBM, mungkin juga akan ada demo menentang pemberian BBM murah.

Jika kita semua sadar akan buruknya BBM, maka mungkin lagi kita akan lebih peduli terhadap penggunaan energy. Mungkin kita tidak perlu lagi menjelaskan untuk apa kita perlu menghemat energy, tak perlu menjelaskan mengapa kita perlu energy alternative yang ramah lingkungan, bahkan mungkin tak perlu ada peringatan earth hour, karena masing –masing orang sadar akan mahalnya harga yang harus dibayar jika kita salah memilih sumber energi.

BBM adalah kutukan yang mengikat kita semua, entah itu harganya naik, ataupun tidak naik. Posisi saat ini, membuat kita laksana putri di negeri dongeng yang menunggu datangnya seorang pangeran berkuda putih membebaskan kita dari kutukan. Pfffffft ….situasi yang amat kita benci.

Kamis, 08 Maret 2012

Welcome to my life

Selamat datang di blog baruku..... Bahwa menulis itu bisa menimbulkan addicted, begitu memutuskan untuk punya resolusi aktif menulis blog, entah kenapa mendadak aku tak bisa berhenti ingin menulis apapun. yang kulihat, ku rasa, ku dengar, dan ku jilat (halah.....). Alhasil blog lama jadi tidak fokus. Ditambah pertimbangan statistik pengunjung blog lamaku, yang ternyata sebagian besar mengetahui blog ku dari google, maka aku ingin memfokuskan blog lama menjadi blog review....nah untuk curhatan pribadi aku buat blog disini. jadi. : Selamat menikmati